Golok dalam Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian

July 17, 2008

Pada lembar ke XVII naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian dinyatakan sebagai berikut:

Sa(r)wa lwir[a] ning teuteupaan ma tĕlu ganggaman palain.

Ganggaman di sang prabu ma: pĕdang, abĕt, pamuk, golok, peso teundeut, kĕris. Raksasa pina[h]ka dewanya, ja paranti maehan sagala.

Ganggaman sang wong tani ma: kujang, baliung, patik, kored, sadap. Dĕtya pina[h]ka dewanya, ja paranti ngala kikicapeun iinumeun.

Ganggaman sang pandita ma: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa pina[h]ka dewanya, ja itu paranti kumeureut sagala.

Nya mana tĕluna ganggaman palain deui di sang prĕbu, di sang wong tani, di sang pandita. Kitu lamun urang hayang nyaho di sarean(ana), eta ma panday tanya.

Sa(r)wa lwir[a] ning ukir ma: dinanagakeun, dibarongkeun, ditiru paksi, ditiru were, ditiru singha; sing sawatek ukir-ukiran ma, marangguy tanya.[1]

Terjemahan:

Segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda.

Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh.

Senjata orang tani ialah: kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan diminum.

Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala sesuatu.

Itulah ketiga jenis senjata yang berbeda pada sang prabu, pada petani, pada pendeta. Demikianlah bila kita ingin tahu semuanya, tanyalah pandai besi.

Segala macam ukiran ialah: naga-nagaan, barong-barongan, ukiran burung, ukiran kera, ukiran singa, segala macam ukiran, tanyalah maranggi.[2]

(Danasasmita, Saleh & dan kawan-kawan, Sanghyang Siksakandang Karesian Transkripsi dan Terjemahan, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, Bandung, 1987: halaman 84, 107-108)

Berdasarkan isi naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian didapatkan informasi bahwa setidaknya pada tahun 1518 di Kerajaan Pajajaran, ada sejenis senjata yang khusus dimiliki atau senjata pegangan sang prabu (golongan bangsawan, ksatria, raja) yang disebut dengan golok.


[1] Saleh Danasasmita, 1987, Halaman 84

[2] Saleh Danasasmita, 1987, Halaman 107-108

3 Responses to “Golok dalam Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian”

  1. zul said

    info menarik tentang golok sunda yang ternyata bergam dan mempunyai sejarah,bila ingin info lebih lanjut kemana ya kang? nuhun

    • madya said

      Untuk pemesanan/pembuatan golok silahkan hubungi:

      Pak Eep Surahman
      Pengrajin seni ukir logam & kayu Pusaka Rama
      Jl Nangkerok, Mekar Laksana
      rt.01/13 ds Panyocokan
      Kec. Ciwidey – Kab. Bandung
      telp/fax. 022-5927027
      hp. 081320690862

  2. great examples! can see they are properly designed for not catching on clothing in very close-range, grappling, fighting; nicely lend themselves to the small circular cutting strokes of close-work; also thrusting-tip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: